Skip to main content
PMB UNISA

Sosio-Kultural dan Ghirah Feminisme

Oleh : Salma Firdausya

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana [At-Taubah:71].

 

Berbicara soal segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tak ada habisnya. Tak lebih lagi jika kita bahas soal mahluk yang ada didalamnya. Terlebih lagi berbicara soal feminisme. Sebuah bahan pembicaraan yang semakin lama pembahasannya semakin tak ada titik terangnya. Feminisme yang memiliki artian dari femina tersebut, memiliki arti sifat keperempuan, sehingga feminisme diawali oleh presepsi tentang ketimpangan posisi perempuan dibanding laki-laki di masyarakat. Akibat presepsi ini, timbul berbagai upaya untuk mengkaji penyebab ketimpangan tersebut untuk mengeliminasi dan menemukan formula penyetaraan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang, sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia (human being). Dilansir dalam sebuah jurnal, Menurut Kamla Bashin dan Nighat Said Khan dalam sebuah bukunya yang berjudul “Some Question of Feminism and its Relevance in South Asia” Pada tahun 1986 mendefinisikan sebuah feminisme sebagai suatu kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan di masyarakat, tempat kerja, dan keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan dan laki-laki untuk mengubah kesadaran tersebut. Maka hakikat dari feminisme masa kini adalah perjuangan untuk mencapai kesetaraan, harkat, serta kebebasan perempuan untuk memilih dalam mengelola kehidupan dan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Pemikiran tersebut yang berkorelasi dengan realitas yang terjadi pada perempuan saat ini. Dimana masih adanya penindasan baik secara langsung maupun tidak langsung itu sendiri. Bisa kita lihat diberbagai fenomena yang terjadi saat ini ialah masih maraknya labelling ‘penomor duaan’ bagi perempuan diberbagai tempat, entah dalam hal pekerjaan, pendidikan, kesempatan dan lain-lain. Bahkan perempuan kerap kali mengalami hal-hal yang diluar dugaan seperti pelecehan seksual (sexual harrassment) hingga kekerasan seksual ( sexual assault ) oleh pihak-pihak tertentu. Hal tersebut yang membuat perempuan dirasa kurang aman di berbagai tempat dimana ia berpijak.

Feminisme juga mengingatkan kita pada berbagai tradisi sosio-kultural yang kerap melekat di masyarakat hingga saat ini. Bahkan menurut sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Universitas Padjajaran, melansir ConventionWatch, 2007 bahwa Sejak masa lampau, budaya masyarakat di dunia telah menempatkan laki-laki pada hierarki teratas, sedangkan perempuan menjadi kelas nomor dua. Ini terlihat pada praktek masyarakat Hindu misalnya, pada zaman Vedic 1500 SM, perempuan tidak mendapat harta warisan dari suami atau keluarga yang meninggal. Dalam tradisi masyarakat Buddha pada tahun 1500 SM, perempuan dinikahkan sebelum mencapai usia puberitas. Mereka tidak memperoleh pendidikan, sehingga sebagian besar menjadi buta huruf. Dalam hukum agama Yahudi, wanita dianggap inferior, najis, dan sumber polusi. Dengan alasan tersebut, perempuan dilarang menghadiri upacara keagamaan, dan hanya diperbolehkan berada di rumah peribadatan. Begitu pula di Indonesia, pada era penjajahan Belanda maupun Jepang, perempuan dijadikan sebagai budak seks bagi tentara-tentara asing yang sedang bertugas di Indonesia. Serta terdapat peraturan yang melarang perempuan mengenyam pendidikan, kecuali mereka berasal dari kalangan priyayi atau bangsawan. Bisa kita lihat bahwa tradisi inferioritas atau penomor duaan memang kerap kali terjadi turun-temurun dari zaman dahulu hingga saat ini. Kilas balik, terlebih lagi kita jumpai banyaknya tradisi yang justru tanpa kita sadari menjadikan perempuan sulit untuk mendapatkan kesetaraan itu sendiri. Seperti halnya budaya pingit yang ada pada tradisi jawa kuno atau bahkan budaya tangkap lari yang ada pada tradisi adat NTT yang lagi-lagi mampu melanggengkan sebuah budaya patriarki. Dimana peranan seorang perempuan saat itu selayaknya hanyalah dalam hal pekerjaan domestik saja. Perempuan yang sebaiknya hanya mengurus kebutuhan keluarga seperti mengurus anak, dapur, dan semacamnya. Dari hal tersebutlah yang kerap kali dirasakan perempuan di zaman dahulu merasa tertindas.

Berawal dari situ hingga pada akhirnya munculah gebrakan-gebrakan untuk menghilangkan budaya superioritas-inferioritas yang diangkat oleh berbagai pahlawan emansipasi wanita seperti Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) yang mendirikan ‘aisyiyah saat itu, lalu RA Kartini, dan masih banyak lagi yang menjadikan wanita hingga sampai saat ini mampu menempati wadah yang saat itu sulit untuk ditempati. Terlepas dari segala hal yang ada dalam lingkup sosio-kultural yang berdampak pada ketimpangan gender yang terjadi, perlunya analisis kritis terkait terhadap akar permasalahan atau grassroot dari penyebab penindasan terhadap perempuan yang terjadi hingga sampai saat ini. Dan perlu kita ketahui bahwa semua berhak setara, tidak ada sebuah pembedaan yang menjadikannya lebih agung dari yang lainnya. Satu pesan untuk seluruh wanita di berbagai lapisan tempat, tetap bersinar dan cerah mencerahkan!

 

 

Sumber :

Bashin, Kamla dan Nighat Said Khan (1986). Some Question of Feminism and its Relevance in South Asia: National Commission on the role of Filipino Women.

Sakina, Ade Irma, dkk. Menyoroti Budaya Patriarki Di Indonesia : Departemen Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran

Kyai H. Ahmad Dahlan

Oleh : Erik Alwin. S

 

Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tahun 1868, beliau lahir dari keluarga besar utama kesultanan yogyakarta hadiningrat . Pada 1883 beliau pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Saat beliau pulang ke tanah air  beliau menemui seorang ulama yang akan memberikan nama Arab sebagai pengganti nama lama. Lalu beliau diberi Nama Kyai haji Ahmad Dahlan. Sebelumnya nama beliau diubah adalah Muhammad Darwis.

Kyai H. Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta. Beliau juga sudah menunaikan ibadah haji ke mekkah pada usia 15 tahun dan tinggal di makkah selama 2 tahun untuk memperdalam ilmu agama islam, beliau juga mempelajari gerakan-gerakan pembaruan Islam yang saat itu tengah populer di beberapa negara.

Kyai H. Ahmad Dahlan belajar dan mengkaji pemikiran tokoh-tokoh pembaruan seperti Jamaluddin al-Afghani, Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Rida. Pembaruan merupakan realitas yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya sebagai aksi untuk menggugah kesadaran dalam rangka membentuk citra diri melalui pola tertentu akibat timbulnya tantangan yang kompleks pada zamannya.

Semangat pembaruan ini mengakibatkan perpecahan umat Islam di Indonesia menjadi dua kelompok, yaitu modernis dan tradisionalis. Kelompok pertama dengan tokohnya H.O.S (Haji Oemar Said) Cokroaminoto (1882-1934), pemimpin besar Syarikat Islam (SI), KH. Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah, dan Ahmad Hasan (1887-1958), pendiri Persatuan Islam (Persis), berusaha meremajakan Islam agar dapat menyerap kemajuan Barat melalui sains ke dalam pengajaran serta mencoba memurnikan ajaran Islam dengan meningkatkan kesadaran beragama bagi pemeluknya. Dan kelompok kedua Kelompok kedua dengan tokohnya KH.Hasyim Asy’ari (1871-1947) berusaha meningkatkan peran Islam dan pemikiran Islam dengan tetap berpegang pada ajaran empat madzhab. Banyak perbedaan prepektif dari dua kelompok tersebut maupun dari segi tujuan pendidikan islam, materi pendidikan islam, metode pendidikan islam, dan menejemen lembaga pendidikan islam.

Banyak yg di berikan oleh kyai ahmad dahlan tentang gerakan gerakan pembaruan islam supaya meremajakan Islam agar dapat menyerap kemajuan Barat melalui sains ke dalam pengajaran serta mencoba memurnikan ajaran Islam dengan meningkatkan kesadaran beragama bagi pemeluknya.

 

Referensi :

Pemikiran pendidikan islam prepektif KH. Ahmad dahlan (1869-1923 m ) dan KH. Hasyim asyari (1871-1947 m) zetty azizatun ni’mah

SRIKANDI ‘AISYIYAH

Oleh : Adelia Rahima

Perempuan itu bernama Siti Walidah, kita sering menyebutnya Ny. Ahmad Dahlan. Beliau dilahirkan pada 3 januari 1872 M di Kauman Yogyakarta. Beliau merupakan putri dari Kiai Muhammad Fadhil, seorang penghulu keraton Yogyakarta yang kemudian diberhentikan karena sebab tertentu. Lalu, Ayah Siti Walidah menekuni profesi sebagai saudagar batik. Ayah Walidah termasuk saudagar batik yang kaya di Kauman, sehingga kehidupan ekonominya terbilang mapan.

Sejak kecil Siti Walidah sudah mengenal dan belajar ilmu agama, namun tidak dengan ilmu pengetahuan umum karena pada waktu itu berkembang pemikiran bahwa sekolah formal hanyalah  untuk laki-laki, bukan untuk perempuan. Sedih sekali bukan…? Meskipun demikian, semangat belajarnya tidak pernah padam, beliau belajar menulis latin bersama peserta pengajian perempuan seusianya. Siti Walidah memang terbilang paling menonjol dibanding dengan teman-temannya. Tidak heran, kemampuan berdakwah sudah diasahnya sejak seringkali dipercaya oleh ayahnya untuk mengajar di langgarnya.

Tepat pada tahun 1903 M, Siti Walidah dinikahkan dengan KH. Ahmad Dahlan yang melainkan adalah saudara sepupunya sendiri. KH Ahmad Dahlan bersama Siti Walidah mendirikan sebuah persyarikatan yang bernama Muhammadiyah, organisasi pembaharuan Islam pertama di Yogyakarta. Tidak cukup sampai disini, Siti Walidah juga ingin mengantarkan kaum perempuan supaya memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan formal dan menjalankan peran kemasyarakatan, berdakwah secara aktif di ruang publik, seperti di pengajian atau organisasi. Keadaan wanita Indonesia saat itu sangat memprihatinkan. Paham budaya yang turun menurun menempatkan wanita sebagai “Konco wingking”(Teman untuk urusan rumah tangga saja). Posisi itu menjadi sumber kebodohan dan ketertinggalan kaum perempuan. Lalu, Apa yang dilakukan Walidah?

Siti Walidah merintis dengan mengumpulkan kaum perempuan baik tua maupun muda untuk belajar membaca Al-Quran. Pengajian tersebut dikenal dengan nama “Sapa Tresna”. Konon, Surat pertama yang diajarkan adalah Al-Maun, yang berisi tentang kepekaan sosial sekaligus mengingatkan kita pada fenomena kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Seiring berjalannya perjuangan Siti Walidah, pada tahun 1917 M pengajian tersebut resmi berubah menjadi sebuah organisasi perempuan dengan nama “ ‘Aisyiyah ”. Siti Walidah menjadi ketua ‘Aisyiyah dari tahun 1921-1926 M dan kembali memimpin pada tahun 1930 M selama satu tahun.

Siti Walidah adalah perempuan yang memiliki pergaulan luas. Bagaimana tidak? Beliau pernah diundang dalam sidang ulama solo yang bertempat di serambi Masjid Besar Keraton Surakarta yang notabene pesertanya adalah laki-laki. Beliau juga pernah berpidato di hadapan kongres pada kongres ‘Aisyiyah ke-15 di Surabaya tahun 1926 M. Tidak hanya itu, Ny. Ahmad Dahlan juga beberapa kali menghadiri dan memimpin jalannya kongres ‘Aisyiyah. Masih banyak lagi jasa-jasanya, seperti membangun Mushalla dan sekolah ‘Aisyiyah.

Siti Walidah merupakan sosok pemimpin yang selalu mengusahakan untuk hadir di setiap kongres, tetapi sejak tahun 1940 M beliau jatuh sakit sehingga tidak lagi dapat menghadiri kongres. Semasa Ny.Dahlan sakit,konsul-konsul Muhammadiyah menjenguknya. ”Aku titipkan ‘Aisyiyah sebagaimana Alm. KH. Ahmad Dahlan menitipkan Muhammadiyah kepada kalian (generasi penerus Muhammadiyah)” itulah pesan wasiat Ny. Ahmad Dahlan. Tidak sampai berselang satu tahun setelah menyampaikan wasiat, Ny. Dahlan wafat pada 31 mei 1946 M pada usia 74 tahun. Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Siti Walidah atas jasanya yang begitu besar bagi kaum perempuan dalam mendidik dan membina perempuan-perempuan muda calon pemimpin-pemimpin Islam. Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.042/TK/Tahun 1971 telah menetapkan Siti Walidah sebagai Pahlawan Nasional.

Begitu besar jasa Ny. Ahmad Dahlan bagi kaum perempuan,khususnya perempuan muslim Indonesia. Ketangguhan, keberanian, dan kemandirian sosok Siti Walidah, sudah seharusnya menjadi contoh bagi kita kaum perempuan, untuk tetap percaya diri dalam menghadapi situasi apapun. Kemandirian, keberanian, serta pengambilan sikap perempuan itu jauh lebih penting dibandingkan kecantikan yang terlihat dari fisik semata. Dari keteladanan Siti Walidah, dapat kita teladani bahwa kecantikan yang sesungguhnya adalah ketika perempuan percaya diri, mandiri, dan independen. Kemudian dapat bermanfaat dalam kehidupan. Semoga, kita sebagai kaum perempuan bisa mengurangi rasa insecure kita yang belakangan marak karena wajah glowing, paras putih tanpa jerawat dan segala bentuk perawakan secara fisik. Menilik bagaimana perjuangan sosok Ny. Ahmad Dahlan kita bisa memulai untuk meneladani sosok Ny. Ahmad Dahlan yang percaya diri tanpa membandingkan kemampuan diri dengan oranglain. Aamiin… Untuk Kawan-Kawan yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai perjuangan Ny.Ahmad Dahlan, bisa membaca buku yang berjudul “Srikandi-Srikandi ‘Aisyiyah” yang ditulis oleh Mu’arif dan Hajar Nur Setyowati dan diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah 2014.

Refrensi :

Setyowati,Hajar Nur dan Mu’arif.2011.Srikandi-Srikandi ‘Aisyiyah.Yogyakarta:Suara Muhammadiyah.

 

Sapa Tresna

Oleh: Ana Alifiani

“Jadi orang harus bermanfaat untuk masyarakat, jangan sampai hanya jadi benalu.” Ibu mengusap kepalaku yang dibalut jilbab biru tua sambil memandang lekat mataku. Ah, sudah berapa kali beliau mengatakan hal sepert ini. Seperti tidak ada nasehat lain saja, pikirku.

Jika biasanya beliau akan kembali melanjutkan aktivitasnya setelah memberiku nasehat, kali ini berbeda. Beliau menarik lembut tangan kananku, mengajakku duduk di amben yang berada di beranda rumah kayu kami. Beliau duduk bersimpuh, layaknya perempuan jaman 60-an pada umumnya, sedangkan aku duduk bersila, seperti kebiasaan perempuan pada jamanku, yang sering kulihat.

Beliau diam, membiarkan suara angin yang saling bertiupan memenuhi pendengaranku. Beliau diam bukan malah membuatku tenang, sebab biasanya beliau lebih banyak berbicara, menceritakan apa-apa yang sudah seharusnya menjadi makanan untuk otakku yang beliau bangun agar terus berkembang. Aku mulai gelisah, menatapnya ragu, lalu memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.

“Kenapa Ibu selalu menasehati Puan untuk bermanfaat bagi masyarakat, agar memikirkan keadaan masyarakat, semua tentang masyarakat. Jarang sekali Ibu membahas tentang pendidikanku, jarang sekali Ibu menanyakan bagaimana perkembanganku di sekolah, padahal umurku baru lima belas tahun. Umur dimana pada umumnya masih senang bermain, Bu.”

“Sudah sejak 103 tahun yang lalu, ketika Muhammadiyah merayakan isra’ mi’raj untuk pertama kali, tepatnya pada 27 Rajab 1335 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1917 M, sebuah organisasi perempuan yang dididik oleh KH. Ahmad Dahlan bernama ‘Aisyiyah diresmikan.”

Aku diam, menyimak dengan saksama, seolah diajak untuk pergi ke masa lalu, dimana sejarah itu terjadi.

“Pada awalnya, KH. A Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan membimbing perempuan yang senang berkumpul, baik anak-anak maupun yang sudah berumur puluhan untuk mendapatkan ilmu keagamaan. Mengingat peranan perempuan yang sudah seharusnya mendapatkan tempat yang layak baginya, KH A Dahlah akhirnya membuat sebuah pengajian yang isinya perempuan dengan nama Sapa Tresna. Pengajian itu belum menjadi sebuah perkumpulan resmi, oleh karena itu ada salah satu tokoh bernama KH Mokhtar mengadakan pertemuan dengan KH A Dahlan yang juga dihadiri oleh H. Fakhrudin dan pengurus Muhammadiyah lainnya.”

Aku mengangguk-angguk, menatap air muka ibuku yang begitu bersemangat menceritakan hal tersebut.

“Pada awalnya disusulkan nama Fatimah sebagai ganti nama Sapa Tresna itu, akan tetapi nama itu tidak disetujui. Akhirnya H Fakhrudin mengusulkan nama Aisyiyah, karena difikir itu lebih selaras dengan harapan dapat mengikuti sifat Aisyiyah sebagai istri Nabi Muhammad yang selalu membantu beliau dalam berdakwah dan nama itu akhirnya disetujui, tepat pada hari dimana tadi ibu ceritakan di awal tentang Aisyiyah diresmikan.”

“Hm… jadi, itu juga pertama kalinya Muhammadiyah merasyakan Isra’ Miraj ya, Bu? Karena bertepatan dengan lahirnya Aisyiyah?” tanyaku sambil menopangkan dagu dengan tangan kiriku, membayangkan keadaan jaman dahulu, dimana wanita seumuranku sudah diarahkan untuk memikirkan kemasyarakatan. Ah, mungkin ini alasan kenapa ibuku selalu saja memberiku nasehat agar menjadi perempuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Dan kamu tahu, Puan?” tanya beliau ancang-ancang melanjutkan ceritanya.

Aku menggeleng.

“Ada sebuah pesan dari KH A Dahlan yang ibu pikir itu sudah menjadi bekal untuk bertahan hidup dengan terus bermanfaat bagi masyarakat, ‘Beramal itu harus berilmu’.” Aku terdiam, mulutku sedikit terbuka, begitupun pikiranku yang mulai mengerti, “salah satu pilar perjuangan Aisyiyah itu sendiri adalah, ‘pemberantasan kebodohan’. Jadi, Ibu pikir, kamu mengerti dengan apa yang harus kamu lakukan setelah ibu ceritakan seluk-beluk perjuangan dan etimologi Aisyiyah. Jika kamu masih bingung, berfikirlah, agar kamu berbeda dengan hewan, karena disitulah perbedaannya.” Beliau mengakhiri cerita, pelan-pelan beliau beranjak dari tempat bersimpuhnya, ijin pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Sedangkan aku terdiam.

“Ibu. Sungguh, ibu membuat aku berfikir,” gumamku pelan sambil tersenyum.

Muhammadiyah

Oleh : Hesty Wahyuningsih

 

Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta pada tahun 1868, adapula sumber lain yang menyatakan bahwa Beliau lahir pada tahun 1869. Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dengan nama kecil Muhammad Darwis, dan Beliau merupakan anak keempat dari pasangan suami-istri Kyai Haji Abubakar bin Kyai Sulaiman yang merupakan khatib di masjid sulthan kota kala itu dengan Siti Aminah Binti Kyai Haji Ibrahim yang merupakan penghulu besar di Yogyakarta. Muhammad Darwis lahir dan besar dalam satu lingkungan yang menjunjung keIslaman sangat kuat yaitu Kampung Kauman. Kampung Kauman merupakan kampung seperti dalam lukisan yang ada di Kota Sultan Yogyakarta, dikatakan seperti itu karena terdapat jalan-jalan sempit dan tembok-tembok putih yang membuat orang asing kebingungan dalam menemukan jalan di kampung yang penuh penduduknya disertai  suasana yang sunyi dan tentram, dan pula kampung ini dekat dengan masjid besar yang berdiri dengan megahnya dibelakang rumah-rumah yang tingginya tak seberapa dibandingkan masjid tersebut.

Muhammad Darwis merupakan pencetus berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912. Muhammad Darwis yang pada saat itu sudah lebih dikenal dengan nama K.H. Ahmad Dahlan selepas kepulangan Beliau dari Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah naik haji dan menuntut ilmu yang kedua kalinya. Kembalinya Beliau ke Yogyakarta dengan pengetahuan yang lebih luas membuat Beliau tergerak untuk mebuat sebuah perkumpulan, organisasi atau persyarikatan yang teratur dan rapi dengan melihat adanya beberapa faktor penyebab pemikiran tersebut ada dalam benak K.H ahmad Dahlan.

Adapun faktor-faktor penyebab berdirinya Muhammadiyah, yaitu faktor subyektif dan faktor obyektif. Faktor subyektif ini itu sendiri disebut sebagai faktor utama dan faktor penentu berdirinya Muhammadiyah, yang mana faktor ini datang dari dalam diri K.H. Ahmad Dalan itu sendiri yaitu hasil pendalaman Beliau terhadap Al-Qur’an. Beliau melakukan penelaan pada ayat Al-Qur’an sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Nisa ayat 82 dan Muhammad ayat 24 yang di dalamnya berisi tentang taddabur terhadap ayat al-Qur’an. Hal tersebut membuat K.H. Ahmad Dahlan mempratikkannya dengan penelaan pada surat Ali Imran ayat 104 yang memiliki arti sebagai berikut :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 3: 104)

Setelah penelaan dan pendalaman terhadap ayat tersebut, K.H. Ahmad Dahlan memiliki pemikiran dan keinginan dalam hatinya untuk membuat sebuah perkumpulan atau organisasi yang teratur dan rapi memiliki misi dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar kepada masyarakat luas. Sedangkam faktor obyektif dikelompokkan lagi menjadi internal dan eksternal, yaitu sebagai berikut :

  1. Faktor Internal yaitu faktor-faktor yang terdapat pada masyarakat Islam Indonesia. Yang mana pada saat itu terdapat ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagai rujukan untuk menjalani hidup di dunia oleh sebagian besar umat Islam Indonesia, dan lembaga pendidikan yang dimiliki umat Islam belum mampu menyiapkan generasi yang siap mengemban misi selaku “Khalifah Allah di atas bumi”.
  2. Faktor Eksternal yaitu faktor-faktor yang terdapat pada luar tubuh masyrakat Indonesia. Pada saat itu Indonesia sedang mengalami peningkatnya gerakan Kristenisasi dalam masyarakat. Penetrasi Bangsa-bangsa Eropa, terutama bangsa Belanda. Pengaruh dari gerakan pembaharuan di dunia Islam yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah.

Selain dua faktor tersebut, adapula dua faktor yang dikemukakan oleh Solichin Salam sebagai penguat faktor internal dan eksternal, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern mengemukakan kehidupan beragama tidak sesuai dengan al-Qur’an hadis, karena merajarelanya perbuatan syirik, bid’ah dan khurafat yang menyebabkan Islam menjadi beku. Lalu keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran. Pun tidak terwujudnya semangat ukhuwah Islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat. Lembaga pendidikan Islam tak dapat memenuhi fungsinya dengan baik. Dan yang terakhir sistem pesantren yang sudah kuno. Sedangkan faktor ekstern mengemukakan tentang adanya kolonialime belanda di Indonesia, kegiatan serta kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen dan Katolik di Indonesia, dan sikap sebagian kaum intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan zaman. Juga adanya rencana politik Kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonial.

Karena faktor-faktor tersebut terbentuklah Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M yang diketuai oleh K.H Ahmad Dahlan sendiri. Kata Muhammadiyah dalam bahasa Arab memiliki arti Muhammad, merupakan Nabi Muhammad SAW. Yang kemudian ditambah ya niasbah yang artinya menjeniskan. Maka dapat diartikan Muhammadiyah adalah umat atau pengikut Nabi Muhammad SAW. Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang sesuia dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Setelah 40 tahun perkembangan Muhammadiyah yang semakin berkembang secara lahiriyah dan semakin kuatnya pengaruh dari luar yang tidak sesuai dengan paham Islam, maka dibentuklah Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM) pada tahun 1951 oleh Ki Bagus Hadikusumo. MADM merupakan hasil dari pemikiran Ki Bagus yang merupakan putra Raden Hasyim setelah melihat perkembangan Muhammadiyah dan gagasan K.H. Ahmad Dahlan. Adapun sebab pemikiran disusunnya MADM karena pada saat itu belum adanya rumusan masalah yang formal tentang dasar dan cita-cita perjuangan Muhammadiyah, kehidupan rohani keluarga Muhammadiyah menampakkan gejala menurun, akibat terlalu berat mengejar kehidupan dunia, semakin kuatnya berbagai pengaruh alam pikiran dari luar yang langsung atau tidak langsung berhadapan dengan faham dan keyakinan hidup Muhammadiyah, dan dorongan disusunnya pembukaan Undang-undang Dasar Repubrik Indonesia tahun 1945 (UUD45) juga merupakan alasan MADM dibuat.

Terbentuklah MADM untuk mewujudkan masyarakat yang sebenar-benarnya, yang mana MADM memiliki 7 pokok pikiran. Pokok pikiran pertama, hidup manusia harus berdasar tauhid (meng-esa-kan) Allah; ber-Tuhan, beribadah serta tunduk dan taat hanya kepada Allah SWT. Pokok pikiran kedua, hidup manusia bermasyarakat. Pokok pikiran ketiga, hanya hukum Allah yang dapat dijadikan sendi untuk membentuk pribadi yang utama dan mengatur ketertiban hidup bersama menuju kehidupan bahagia dan sejahtera, di dunia dan akherat. Pokok pikiran keempat, berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah wajib, sebagai bagian ibadah dan perbuatan ihsan dan ishlah kepada manusia/masyarakat. Pokok pikiran kelima, perjuangan untuk mencapai tujuan Muhammadiyah hanya akan dicapai dengan ittiba’ (mengikuti) perjuangan para rasul, terutama Rasulullah Muhammad SAW. Pokok pikiran keenam, perjuangan mewujudkan tujuan dan cita-cita Muhammadiyah hanya dapat dilakukan dengan cara berorganisasi. Pokok pikiran ketujuh, perjuangan Muhammadiyah adalah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dengan terbentunya MADM diharapkan Muhammadiyah dapat berdiri diatas landasan yang kokoh dengan berpegang teguh pada prinsip Islam. Muhammadiyah juga memiliki identitasnya sendiri sebagai gerakan Islam adalah gerakan yang berdasarkan nilai-nilai Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam, gerakan dakwah Amar ma’ruf dan nahi munkar adalah gerakan dakwah yang mengajak umat untuk melaksanakan kebaikan dan mencegah diri melakukan perbuatan yang munkar, dan gerakan tajdid adalah gerakan pembaharuan dan pemurnian yang dalam hal ini dibagi dua bidang, yaitu kidah dan ibadah, tajdid bermakna pemurnian dalam arti mengembalikan akidah dan ibadah kepada kemurniannya sesuai dengan Sunnah Nabi saw. Dan juga muamalat duniawiah, tajdid berarti mendinamisasikan kehidupan masyarakat dengan semangat kreatif sesuai tuntutan zaman.

Muhammadiyah juga memiliki organisasi otonom yang dibentuk oleh Persyarikatan Muhammadiyah dengan tujuan sebagai efisiensi dan efektifitas Persyarikatan Muhammadiyah, pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah, dinamika Persyarikatan Muhammadiyah, dan kaderisasi Persyarikatan Muhammadiyah. Terdapt 7 orgnisasi otonom dalam Muhammadiyah. Yang pertama, ‘Aisyiyah adalah sebuah gerakan perempuan Muhammadiyah dan merupakan organisasi wanita Islam pertama di Indonesia. Dibentuk oleh Nyai Dahlan dan K.H Ahmad Dahlan yang diresmikan pada tanggal 27 Rajab 1335 H atau 19 Mei 1917 M bebarengan denga peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Yang kedua, Pemuda Muhammadiyah. Didirikan di Yogyakarta pada tanggal 26 Zulhijjah 1350 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1932 Miladiyah. Pemuda Muhammadiyah didirikan dengan tujuan untuk menghimpun, membina, dan menggerakkan potensi Pemuda Islam serta meningkatkan perannya sebagai kader Muhammadiyah. Yang ketiga, Nasyiatul Aisyiyah (NA) yang merupakan hasil pemikiran pemikiran Simodirdjo untuk mewujudkan tujuan Muhammadiyah, yang mana dalam berdirinya NA dibantu oleh Hadjid pada tahun 1919 dengan nama Siswa Praja beranggotakan siswa-siswi Standart School Muhammadiyah. Lalu pada Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1963 diputuskan menjadi Nasyiatul Aisyiyah. Yang keempat, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berdiri pada 18 Juli 1961. Sempat berganti nama menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Yang kelima, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berdiri pada 29 Syawal 1384 Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah. Dzaman  AL-Kindi, Margono, Sudibyo Markus, dan Rosyad Saleh merupakan tokoh dalam berdirinya IMM. IMM memiliki 6 penegasan, yaitu :

  1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam.
  2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM.
  3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalamMuhammadiyah.
  4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukumm, undang-undan, peraturan, serta dasar dan falsafah negara.
  5. Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah.
  6. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat.

Yang keenam, Tapak Suci Putra Muhammadiyah Berawal dari aliran pencak silat Banjaran di Pesantren Binorong Banjarnegara pada tahun 1872, aliran ini kemudian berkembang menjadi perguruan seni bela diri di Kauman Yogyakarta karena perpindahan guru (pendekarnya), yaitu K.H. Busyro Syuhada. Yang ketujuh, Hizbul Wathan berdiri pada tahun 1920 atas ide K.H Ahmad Dahlan setelah melihat anak-anak muda berseragam berbaris rapi dan melakukan beberapa hal menarik di Alun-alun Mangkunegaran, Surakarta.

 

Referensi :

Miswanto Agus. 2012. Sejarah Islam dan Kemuhammadiyahan. Magelang. Pusat Pembinaa dan Pengembangan Studi Islam Universitas Muhammdiyah Magelang  (P3SI UMM).

Rohmansyah. 2017. Kuliah Kemuhammadiyahan. Yogyakarta. Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M).

“Raihanatun Nasyummuha, Wa Rizquha ‘Alallahi.”

Oleh: IMMawati Rahasih Imtinaniyah Defanera

Sayyidina umar bin Khathab mengatakan, “di Zaman Jahiliyyah, kami tidak memandang perempuan ada dan mereka tidak pernah kami masukkan dalam perhitungan kami” . dari pernyataan tersebut pasalnya setiap pasangan yang dikaruniai anak tetapi anak tersebut berjenis kelamin perempuan maka pasangan tersebut merasa malu sehingga hatinya kesal kemudian memisahkan diri, karena pada zaman tersebut ketika lahir anak perempuan maka entah akan diapakan anak tersebut. Dia hanya akan menjadi beban dalam rumah tangga. Jadi, jika ada yang menanyakan berapa jumlah anak dalam rumah mu, jawab sajalah tentang adanya anak laki – laki. Adanya anak perempuan dalam rumah dipandang sebagai malu yang tercoreng pada kening.  Tetapi Allah tidak membiarkan ke-dzaliman tersebut terus menerus terjadi sehingga Allah SWT mengutus Rasulullah SAW menjadi Rasul-NYA yang penghabisan. Rasulullah mencampakan terhadap penyembah berhala dan mengajak manusia supaya hanya menyembah Allah SWT yang Maha Esa, beliau mengkritik segala tindakan menyimpang salah satunya membenci anak perempuan, ketika beliau tentang, beliau lakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap kebiasaan mengubur anak perempuan pada zaman Jahiliyyah yang disebabkan merasa malu dihadapan masyarakat karena anak perempuan dipandang lemah tidak bisa melakukan apa – apa. Padahal Allah menciptakan sesuatu tidak lain pasti ada hikmah dan manfaatnya. Jika laki – laki bisa memimpin perempuan pun demikian.

Perempuan itu ibarat berlian yang sangat mahal dan tidak sembarang orang memilikinya. Perempuan itu saat kecil, dia membuka pintu surga untuk ayahnya. Saat dewasa, dia menyempurnakan agama untuk suaminya. Saat menjadi ibu, dia menjadi penggerak semua do’a. Oleh karena itu, perempuan dimuliakan dalam agama islam oleh Allah SWT dengan menempatkan surga ada ditelapak kakinya. Maka ketika seorang perempuan sudah menjadi ibu Allah SWT akan menganugerahkan kepadanya satu senjata yang sangat ampuh di muka bumi maka dari itu nabi Muhammad SAW sangat mencintai anak – anak perempuannya . Tahukah apa itu?

Itu adalah Lisannya. Lisan seorang ibu akan berat timbangannya, Lisannya akan membukakan pintu – pintu langit, Lisan seorang ibu layaknya mukjizat untuk para nabi atau karomah para kyai, maka berhati –hati lah, Dr Khalid al-Mosleh berkata “perasaan perempuan adalah kekuatan yang menakutkan. Jika tidak diarahkan kepada yang seharusnya, dia akan jadi senjata penghancur yang sempurna” jadi gunakan untuk bermunajat meminta kepada Allah SWT untuk mendoakan keberhasilan suami dalam mencari nafkah jangan dijadikan sebagai keluhan – keluhan terhadap perempuan itu justru akan memberatkan.

Jika pada zaman jahiliyyah merasa takut atau malu karena melahirkan anak perempuan itu hanya ke-dzaliman yang tidak ingin tahu kebenarannya. Perempuan bukanlah suatu makhluk yang sangat lemah justru keberhasilan dan kemajuan suatu negara ada pada letak perempuannya yang berkemajuan atau tidak. Jangan takut jika memiliki anak perempuan hidupmu akan terlena? tidak, tidak bukan seperti itu. Terlukis kasih sayang kepada anak – anak perempuan dalam sabda Rasulullah SAW “ Raihanatun nasyummuha, wa rizquha ‘alallahi.” Ia adalah kembang mekar untuk kita cium. Tentang rezekinya, kita serahkan kepada Allah.

Raungan Semesta

Jika ku tempati dunia politik

Mana mungkin ku percaya seorang pun

Dalam belukar darah yang menjelma menjadi uang

Persis seperti menyelam dalam ribuan benalu

Sekilas elok namun memusnahkan

Angin bertiup menghembus berita

Bumi menelan nyawa

Hujan membawa bencana

Api melahap cakrawala

Mereka marah, marah pada negeri

Yang hanya berimaji, hidup dengan janji

Merdeka atau mati ucapnya

Namun sirna mimpi para pengelana

Dengan ragu yang meraga

Hutang melipat, malu di lumat

Dan wakil menjadikannya drama yang nikmat

Dan wakil menjadikannya drama yang nikmat

 

Goresan Pena: Nurul Hakimah

Waktu

Oleh: Siti Aminah_Amy

semua hanya soal waktu..

namun bagaimana jika waktu sudah tak berdetik lagi,

sama halnya dengan berhenti waktu kehidupan.

aku tau semua kesalahanku,

semua menjadi sangat berlebihan,

berlebihan dalam hal ku jatuh terlalu dalam,

berlebihan dalam ku berharap kepada hambaNya,

berlebihan dalam ku mempertahankan bunga ini tetap utuh,

semua kesalahanku (lagi).

haruskah ku hentikan waktu ini dengan paksa,

ataukah terus ku berjalan hingga waktu ku benar-benar terhenti?

aku sudah tak tau lagi harus dengan cara apa untuk bersahabat dengan waktumu,

aku takut aku salah lagi,

aku takut untuk menghancurkan waktuku sendiri dan waktumu,

namun aku pun takut untuk merangkai waktu dari detikan pertama dengan orang baru lagi .

harus seperti apa aku saat ini ?

aku sudah tidak tau lagi Tuhan..

aku menyerah dengan waktu..

PESATNYA PERKEMBANGAN INFRASTRUKTUR PEMBANGUNAN HOTEL DAN PENGARUH WISATA DI KOTA YOGYAKARTA

Di kota Yogyakarta sudah sangat dikenal sebagai kota yang penuh dengan ragam budaya dan wisata dunia, bahkan Yogyakarta sudah masuk di dalam destinasi wisata kedua di Indonesia setelah Bali. Di samping itu untuk meningkatkan destinasi wisata hingga lebih baik lagi, pemerintah kota Yogyakarta mulai mengembangkan pembangunan infrastruktur hotel hampir di setiap kabupaten/kota agar mencapai tingkat, sesuai dengan target yang akan dicapai untuk beberapa tahun kedepan.

Berdasarkan survey dan sumber yang di dapat bahwasanya di tahun 2013, telah tercatat 106 hotel baru yang telah beroperasi tumbuh di kota Yogyakarta (belum termasuk 4 kabupaten yang ada di DIY). (tribunnews.com) dan di tahun 2014 telah tercatat ada 1.050 hotel non bintang dengan 20.000 kamar dan 65 hotel berbintang dengan 7000 kamar. Seiring dengan meningkatnya ITK (Indeks Tendensi Konsumen), perkuartal III 2014, ITK jogja telah mencapai 115,89. Alasan pembangunan it terus terjadi di jogja karena jogja merupakan destinasi wisata terpopuler kedua setelah Bali. Berdasarkan data biro pusat statistic perkuartal III 2014 sebanyak 327,856 turis local dan mancanegara yang telah masuk di wilayah Yogyakarta, dan banyak mahasiswa baru yang berasal dari luar kota yang mencapai 200.000 – 300.000 orang setiap tahunnya. Contoh kasus yang terjadi beberapa waktu yang lalu adalah pembangunan Fave Hotel di daerah miliran, dalam suatu kasus tersebut warga jogja di daerah miliran merasa dirugikan, ketika proses pembangunan hotel itu terjadi, di waktu yang bersamaan pun sumur warga mulai kekeringan, jika hal ini terus dilanjutkan, tidak ada solusi yang tepat yang mampu menangani situasi ini, dimana pemilik saham dari pembangunan hotel itu akan merasa rugi namun di sisi lain warga yang memang sudah menjadi penduduk asli akan lebih sangat dirugikan. Apabila pembangunan hotel ini terus dijalankan maka akan mampu meningkatkan perekonomian untuk perkembangan di Yogyakarta, bahkan tingkat pengangguran yg ada di jogja akan semakin rendah karena jika terjadi pembangunan di jogja ini maka akan sangat membutuhkan tenaga kerja untuk perkembangan dari pembangunan tersebut. Namun di sisi lainm, dalam hal ini saya beranggapan bahwasanya pesatnya perkembangan infrastruktur pembangunan hotel di Yogyakarta memiliki sisi pro dan kontra, yang dimana lebih banyak menimbulkan kontra di masyarakat khususnya warga Yogyakarta yang tinggal di wilayah pembangunan hotel yang saat ini tengah dibangun atau telah dibangun.

Berdasarkan survey, data dan argumentasi yang telah disampaikan, telah dapat disimpulkan bahwasanya pesatnya perkembangan infrastruktur pembangunan hotel di jogja telah mampu meningkatkan wisata dan membuat kota jogja menduduki peringkat kedua sebagai wilayah destinasi wisata di Indonesia, meskipun di sisi lain telah banyak pendapat yang pro dan kontra dari pembangunan ini, namun pemerintah Yogyakarta tetap melanjutkan infrastruktur ini terus berjalan agar harapan untuk Yogyakarta menjadi destinasi wisata tetap stabil dan mampu menarik wisatawan untuk menjadikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata terbaik di Indonesia.

 

Penulis: Siti Aminah_Amy

Kutemukan Tuhan dalam Rinduku

Malam mencekam

Pagi membungkam

Siang pun meresahkan

Dan, kembali lagi pada titik kejenuhan

Hendak kemana diri ini?

Telah jauh kumelangkah

Tertatih, terseret, bahkan berlari

Semua ku lalui hingga pada titik pencapian

Dimana keberhasilan itu telah tertata rapi dalam genggaman ku

Namun, terngiang lagi

Untuk apa semua ini?

Seakan sirna tujuan

Hanyalah kehampaan yang  bersemayam

Lamaku termenung

Hampa langkahku

Gelisah jiwaku.

**

Pernah disuatu malam

Kuterjaga dari mimpiku

Laailaaha illallah

Kalimat itu terus terngiang dalam pendengaranku

Aku terpaku.

Setetes demi setetes airmata membasahi pipiku

Ketika itu kaki ku melangkah terarah dan semakin terarah

Kusucikan diriku dengan wudu

‘Allahuakbar’ takbir pun ku panjatkan

Dalam setiap gerakan hingga di akhir sujudku

Hanya ketenangan, zikrullah dan air mata yang membasahi sajadahku

Lama kutermenung seusai sholat

Terekam semua peristiwa

Terbayang amalan-amalan nista

Terngiang semua ucapan dusta

Tergambar rentetan dosa

Duhai Allah…….

Siapa diri hina ini?

Tak pantas harta itu kusombongkan

Tak layak aib itu kujabarkan

Sudah sejauh ini aku tersesat

Sudah sedalam ini aku terjerembab

Sudah sekian lama aku terhina

Astagfirullahal’adziim (3*)

Duhai Allah..

Aku mohon magfirah-Mu

Hamba mohon taubat dari-Mu yaa Rab

Aku mengharapkan ketentraman

Aku mengimpikan kedamaian

Kudekap satu cahaya lalu kurasakan batin ini bergetar

Ternyata aku Rindu

Aku rindu padamu yaa Rab

Aku ingin bersua dengan –Mu yaa Rab

Aku mendambakan ketenangan ketika ku berjumpa dengan-Mu

Tak mampu kutahankan gejolak tangis terisak pilu rindu akan Mu

Mengingat tutur Mu yang kian terabaikan

Satu pilu berjuta resah akan firman Mu

aku mendambakan ketenangan dikala ku bersua dengan Mu ya Rabb

Maka rangkulah aku dalam dekapan Mu

Rahmati aku dengan ampunan Mu

sayangi aku dalam keridoanmu yaa Robbi rabbul izzatii

“wahai jiwa yang tenang,

kembalilah kepada Tuhan mu dengan hati yang ridha dan di ridhoinya

Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba Ku

dan masuklah kedalam syurga Ku”

 

Goresan pena: Mujahidah Dian Furqani M