Skip to main content
PMB UNISA

Rendah Hati

Oleh : IMMawan Andi N.

Menjadi orang yang rendah hati bukanlah orang yang tidak mampu melihat kebaikan dan kekuatan pada dirinya, tapi ia menyadari bahwa ia juga mempunyai kekurangan. kalaupun mempunyai kelebihan tidak sepantasnya kita sombongkan. Karena tidak ada yang pantas kita sombongkan dimata Tuhan. Apapun yang kita punya dan kita banggakan, jika Tuhan berkehendak musnah, maka musnahlah semua itu.

Kerendahan hati adalah ibu dari semua sifat yang baik. Ketika rendah hati kasih kita menjadi nyata. ketika kita merasa tak perlu lagi belajar, saat itu juga kita perlu belajar banyak tentang kerendahan hati.

Dalam kerendahan hati, ada ketinggian budi, dalam kemiskina harta ada kekayaan jiwa, dalam kesempitan hidup ada kekuasaan ilmu.

Ibaratnya, kerendahan hati adalah ketika orang menyebutmu kaya, tapi hiupmu sederhana, ketika orang menyebutmu pandai maka bertambah motvasimu untuk terus belajar.

Kerendahan hati tak akan membuatmu terhina, jangan berkecil hati karena kekuranganmu, jangan sombong karena kelebihanmu, tetaplah rendah hati dan melakukan yang berarti.

Dan Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (QS Asy-Ssuara: 215)

“Yaa Allah, bersihkanlah hatiku dari segala bentuk kemunafikan, keangkuhan dan riya. Penuhilah hatiku dengan keikhlasan, kejujuran dan kerendahan hati… Aamiin…”

Adab Silaturrahmi

Tholabul Ilmi, Bid. Dakwah
IMM Komsat UNISA
Yogyakarta
Edisi : 224

 
وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Ayyub Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya ialah memulai mengucapkan salam. Muttafaq Alaihi.

Dari hadist di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa, kita sesama manusia jangan sampai ada perselisihan yang dimana kita tidak saling tegur sapa. Apabila perselisihan itu melebihi dari 3 malam dan tanpa tegur sapa, maka itu tidak halal/tidak baik bagi kita orang yg muslim. Tetapi yang lebih baik bagi orang muslim adalah mereka yang tidak memutuskan persahabatan diantara mereka dan saling bertegur sapa (mengucapkan salam).

Maka, apabila kita saling bertemu kita usahakan untuk menyapanya meskipun itu hanya senyuman. Dan apabila kita memiliki masalah maka selesaikan lah sebelum 3 malam.

Semoga ahad pagi ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membaca dan yang menyampaikan.

Dzikir dan Doa

Tholabul Ilmi, Bid. Dakwah
IMM Komsat UNISA
Yogyakarta
Edisi : 223

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لَا يُرَدُّ )  أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ وَغَيْرُهُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Doa antara adzan dan qomat tidak akan ditolak.” Riwayat Nasa’i dan selainnya. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan lain-lain.

Maka gunakanlah waktu antara adzan dan iqoma untuk memperbanyak berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT,  karena pada waktu itu Allah SWT tidak akan menolak dzikir dan doa kita.

Semoga ilmu berupa tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan bisa mengaplikasikan dalam keseharian kita. Aamiin aamiin ya rabbal alamin.

Janji adalah Hutang

Tholabul Ilmi, Bid. Dakwah
IMM Komsat UNISA
Edisi : 222

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat An-Nahl (16 : 91), yang artinya

“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan jangan lah kamu melanggar sumpah setalah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

Berhati-hatilah kita semua dalam membuat janji, terutama apabila kita berjanji dengan menjadikan Allah SWT sebagai saksi atas janji kita. Karena di akhirat nanti, janji itu akan di pertanyakan oleh Allah SWT untuk kita yang telah membuat janji tetapi tidak kita tepati janji itu. Semoga Allah SWT senantiasa menjadikan kita orang yang istiqomah dan berpegang teguh akan ucapan kita.

Semoga tulisan ini dapat memberikan hikmah, baik kepada penyampai maupun kepada pembaca.

Teka – Teki Imam Ghazali

Tholabul ilmi, Bid. Dakwah IMM Komsat Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Edisi : 220

1. Imam Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”

Murid 1 = ” Gunung ”

Murid 2 = ” Matahari ”

Murid 3 = ” Bumi ”

Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar,tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU

Allah Berfirman : Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.” (Surah Al A’raf: 179).

2. IMAM GHAZALI” Apa

yang paling berat didunia ? ”

Murid 1 = ” Baja ”

Murid 2 = ” Besi ”

Murid 3 = ” Gajah ”

Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH

Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya

berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.” (Surah Al-Azab : 72 ).

3. Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”

Murid 1 = ” Kapas”

Murid 2 = ” Angin ”

Murid 3 = ” Debu ”

Murid 4 = ” Daun-daun”

Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT . Gara-gara

pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat ”

4.Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? ”

Murid- Murid dengan serentak menjawab =”Pedang ”

Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri

Semoga tulisan ini dapat memberikan hikmah, baik kepada penyampai maupun kepada pembaca.